Don’t Take it Personally, dalam makna mendengar apa yang di dengar.

Despite how open, peaceful, and loving you attempt to be,
people can only meet you as deeply as they’ve met themselves.
– Matt Kahn

Don't take personally.JPG-1

Istilah “Don’t take it personally”, seringkali kita dengar, atau jika pakai istilah jaman now, barangkali “Jangan Baper-an”, ( baper = bawa perasaan) yang bermakna apabila ada suatu situasi eksternal, baik itu suatu peristiwa di luar atau sikap seseorang, jangan cepat-cepat dibawa ke perasaan, seolah-olah hal itu ada sebab akibat dengan diri sendiri. Menarik rasanya untuk dibawa dalam ruang refleksi kesadaran merasa, khususnya dalam pengembangan kemampuan mendengar.

Apa makna belajar yang dipahami dari istilah baper ini ? Apa pula makna ungkapan don’t take it personally ?

Kemampuan mendengar, tidak lepas dari kehadiran diri, sebagai kemampuan memberi perhatian dan tidak berpusat pada diri sendiri. Kehadiran bermakna bahwa diri hadir utuh pada momen demi momen, menyadari apa adanya situasi di dalam diri sendiri, orang lain maupun lingkungan di sekitar. Melepaskan ego, tidak berpusat pada diri, berpeluang membantu untuk melihat apa yang dilihat dan mendengar apa yang didengar, serta merasakan apa adanya kehadiran tanpa menghalangi kesadaran diri pada momen demi momen, terhadap ruang dan waktu dimana diri berada saat ini, di sini.

Upaya diri membuka ruang keterhubungan dengan diri lain, tidak serta merta terjalin keterhubungan di antara dua atau lebih orang lain. Hal ini kembali pada kapasitas pengenalan di dalam diri masing-masing. Keterhubungan antara dua pribadi atau lebih merupakan sebuah proses perjalanan diri. Diri yang mengenali emosi, pikiran, dan kebiasaan-kebiasaan yang terbangun dalam dirinya sendiri. Emosi, pikiran dan cara pandang diri terhadap kehidupan dapat mempengaruhi dalam menyikapi emosi, pikiran dan cara pandang terhadap orang lain, sehingga ucapan, sikap atau tindakan yang dilakukan lebih kepada bagaimana emosi, pikiran dan cara pandang dirinya sendiri, bukan tentang orang lain.

Lantas apa upaya yang bisa dilakukan dalam “mendengarkan” untuk tujuan memahami makna ucapan, sikap dan tindakan yang orang lain sampaikan tentang situasi atau pun dirinya ? ….. Sadari dan rasakan apa adanya kehadiran. Terima apa adanya. Lepaskan diri yang bersangkutan terhadap diri kita. Apapun ucapan dan sikap yang di ambilnya, semata-mata adalah dirinya sendiri. Apa upaya yang bisa dibangun manakala hendak membantunya ? Berilah ruang belajar pada diri yang bersangkutan untuk menemukan
sendiri proses yang selaras dan membuka ruang kesadarannya.

Manakala situasi “baper” hadir, ….
kesadaran diri memberi ruang ke dalam untuk kembali, …
kembali mengenali diri, siapa diri, saat ini, di sini , begini.
Kembali,.. fitrah, … selaras diri dengan diri.

Salam,
Self reflection

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s