FORGIVENESS, Kesadaran membuka ruang untuk diri kembali hadir

forgiveness

Forgiveness therapy,  demikian judul workshop yang diselenggarakan pada Kamis, 31 Mei 2018,  oleh Bapak  Asep Haerul Gani, Psikolog. Sebuah  Workshop yang membuka ruang kesadaran intra personal dalam membangun makna hidup, yang terbebas dari belenggu emosi  masa lalu,  yang tersimpan dalam benak dan menghalangi kehadiran diri untuk hadir utuh momen demi momen , saat ini  di sini.

Workshop diawali dengan kesediaan pembicara untuk berbagi kisah perjalanan diri di masa kanak-kanak. Seorang anak di usia 11 tahun yang menjalani pembebasan emosi yang membelengu akibat kata-kata buruk yang disampaikan keluarga terhadap sifat dan perilaku sang ayah yang tidak dikenalnya secara utuh. Di usia 6 hingga 10 tahun, harus menemui sang ayah di setiap hari ke-14  di bulan Ramadhan, dan  menjadi tontonan serta  belas kasihan warga  desa  demi desa  di sepanjang perjalanan menuju desa  tempat tinggal sang ayah. Di usia 11 tahun yang hendak mengikuti pendidikan di sebuah pesantren yang diinginkannya, Asep kecil menghadapi ujian dari Sang Kyai untuk bersikap menghadirkan cinta di dalam dirinya melalui pembelajaran makna yang tidak dipahaminya. Keinginan kuat untuk menjadi santri membuatnya bertahan menjalani apapun perintah sang Kyai.  Perintah untuk bersikap secara berbeda dalam menemui sang Ayah di hari ke 14 di bulan Ramadhan di usianya yang 11 tahun.  Mulai dari keharusannya menyediakan hadiah terbaik bagi sang ayah dari hasil keringatnya sendiri, sikap dan perilaku santun,  serta kata-kata terindah yang harus diucapkan manakala dirinya hadir menemui sang ayah. Keharusan yang dijalani melalui hasil pelatihan secara nyata berulang kali sebelum  hari ke -14 bulan Ramadhan.

Pelatihan berulang yang dilakukannya  hingga memecahkan ruang kebekuan dan belenggu dalam dirinya menghadirkan seorang Asep kecil yang menjadi dirinya sendiri, dan terbebas dari tekanan kata-kata buruk yang diterimanya. Meski kemudian disepanjang perjalanan memasuki masa remaja hingga dewasa mengenal betul perilaku dan sikap sang ayah, yang bukan hanya tidak ideal, bahkan menjadikannya bersikap berhati-hati dalam mengenal kawan perempuan untuk bertanya terlebih dahulu siapa ayahnya, dan kapan tanggal kelahirannya, memberikan fakta bahwa dirinya dan sang kawan baru merupakan kakak-adik berbeda ibu.  Namun Jiwa Asep kecil yang telah terbebas dari belenggu emosi kata-kata buruk yang diterimanya, memberinya kebebasan diri untuk menyikapi secara mandiri,  menjadi dirinya sendiri. Kebesasan emosi untuk berkembang menjadi apapun dirinya yang dianugerahi segala potensi oleh Sang Maha Pencipta  untuk membangun makna kehidupan di semesta raya ini.

Perjalanan selama 25 tahun menjalani karir sebagai seorang Psikilog, memberinya ragam pembelajaran hidup, menangani klien baik perorangan, komunitas, maupun organisasi baik swasta maupun pemerintah hingga  sejarah perjalanan bangsa ini yang menjadi  perhatiannya,  sarat akan dendam dan peperangan,  “Babad tanah jawa”.  Jiwa yang terbuka memahami akan ketiadaan “Skema Pemaafan”.  Yang kemudian menjadi perenungan dalam diri hingga menjadi sebuah pemahaman yang berkenan dibagikan kepada seluruh peserta di dalam workshop tersebut. Workshop bertema Pemaafan yang telah dijalani selama beberapa tahun terakhir sebagai bentuk keinginannya dalam mewakafkan ilmu kehidupan di setiap bulan Ramadhan yang telah dimaknainya.

Filosofi  Pemaafan yang dipahaminya, berbeda dari  “Seimbangnya timbangan, Memaklumi,  Membiarkan / Membebaskan, Mengalah, menjadi kecewa, Melupakan, Pemusatan pada diri, Pengampunan, Kelonggaran, Perdamaian ataupun Pembenaran”. Pemaafan menurut Asep Haerul Gani, merupakan kegiatan intra personal.  Skema Pemaafkan yang berangkat dari landasan  :

Skema pemaafan

Dijelaskan oleh beliau :

 Tabel 1. Perbandingan sikap pemaafan dengan sikap pembalasan dimana keburukan dibalas keburukan
 Tabel 2. Perbandingan sikap pemaafan dengan sikap melakukan kebaikan kepada orang yang berbuat baik.
 Tabel 3. Pebandingan sikap pemaafan dengan berbuat baik kepada orang lain yang bersikap netral, tidak berbuat baik ataupun keburukan
 Tabel 4. Perbandingan sikap pemaafan dengan berbuat baik kepada siapapun tanpa melihat sikap apapun yang dilakukan orang lain terhadap dirinya.

Refleksi keempat tabel tersebut membuka ruang kesadaran akan perubahan sikap dari seorang yang bersikap sebagai Objek menjadi Subjek di dalam dirinya. Seseorang yang bersikap dan berbuat, bukan dilandasi atas respon ataupun reaksi atas sikap dan perbuatan orang lain.

Skema Pemaafan - Subjek

Dari sinilah beliau memaparkan sebuah skema pemaafan. Sikap perilaku diri sebagai subjek yang bertanggungjawab penuh atas dirinya sendiri, Sikap yang mencintai diri, menyayangi dirinya sendiri. Seorang anak yang terlahir sebagai wujud makhluk yang dicintai Allah SWT, meski mengalami tekanan keburukan , namun kembali fitrah, kembali menjadi cinta, sehingga didalam dirinya tertanam sifat kasih sayang yang diawali pada dirinya sendiri.

Workshop  bergulir bersama sang waktu di bulan Ramadhan penuh berkah ini, bagai curahan pencerahan kepada seluruh peserta, terungkap dalam kehadiran rasa pada diri masing-masing peserta, atas ragam emosi yang kemudian hadir. Sikap menghargai dan menghormati dan menerima apapun sikap yang terungkap di dalam workshop ini, memberi ruang belajar yang sangat berharga bagi diri masing-masing peserta. Kisah demi kisah yang disampaikan, serta latihan demi latihan personal sebagai ruang komunikasi intra personal menjadi oleh-oleh keterampilan hidup untuk menelaah kembali perjalanan hidup masing-masing peserta dalam memberikan perhatian dan menuntaskan inner child, masa lalu yang sejatinya terekspose secara eksponensial didalam dirinya dan membelenggu sepanjang kehidupannya. Skema yang membuka ruang kesadaran manakala diri menerima, menerima anugrah terindah akan makna kehadiran diri dari rencana Sang Maha Pencipta, Allah SWT.

Terima kasih, terima kasih. Terima kasih atas kehadiran dan kebersamaan, terima kasih atas pembelajaran penuh makna.

Salam,

Belajar meRasa_mindful

Advertisements

2 thoughts on “FORGIVENESS, Kesadaran membuka ruang untuk diri kembali hadir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s