LISTEN TO…, Kesadaran diri membangun keterhubungan

The bottom line is when we are listened to, we feel connected. When we’re not listened to, we feel separate. We need to listen. The more we understand, the less we fear, the less we fear, the more we trust and the more we trust, the more love can flow – Tara brach

mendengar

Listen to, mendengarkan , aktivitas kesadaran diri yang berujung pada perolehan informasi yang diterima diri dalam upaya menggali, mengenali, yang kemudian ditimpali dengan perspektif diri, yang menghasilkan pemahaman, penerimaan untuk kemudian disikapi sebagai aksi dan reaksi diri dalam menyikapi informasi yang diterima, baik secara pasif, diam atau aktif  menunjukkan respon diri dalam memaknai informasi yang diterima dari mendengarkan.  ( Terjemahan bebas diri penulis untuk menjabarkan makna )

Mendengar merupakan hasil aktivitas panca indera pendengaran. Informasi yang masuk berupa suara yang diterima oleh gendang telinga, atau kita sebut sebagai faktor fisik. Informasi yang telah diterima dapat dipengaruhi oleh suasana di dalam diri, hal ini dapat mempengaruhi seberapa konsentrasi diri dalam mendengarkan.  Suasana diri dipengaruhi oleh kondisi sibuk tidaknya pikiran yang ada pada saat mendengar, ekspresi emosi yang sedang  berkecambuk di dalam diri. Selanjutnya informasi yang masuk ditimpali pula oleh perspektif diri dalam menerima atau mencerna informasi, hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan dan penerimaan diri.

Dalam upaya membangun keterhubungan diri, baik diri dengan diri, diri dengan orang lain, maupun diri dengan semesta,  kemampuan diri dalam mendengar menjadi sangat krusial, sangat penting, sebagai upaya pembelajaran diri, memperoleh pengetahuan, meningkatkan pemahaman dan kualitas dalam membangun keterhubungan , relationship. Manakala faktor fisik tidak menjadi kendala dalam mendengarkan, maka faktor non-fisik sangat mempengaruhi kualitas mendengar. Sering terjadi diri tidak mendengar apa yang sesungguhnya di dengar, namun diri mendengar apa yang ingin di dengar. Hal ini terjadi karena faktor non fisik yang dapat mempengaruhi diri dalam mendengar.

Bagaimana diri mampu mendengar apa sesungguhnya yang didengar ?

Tidak lain adalah kesadaran merasa_mindful. Dimana kesadaran diri , hadir utuh dan mampu merasa, presencing ( presence dan sensing ), membuka gerbang potensi diri, manakala diri mampu menerima informasi secara jelas.  Saat diri sedang tidak dalam kondisi siap menerima, entah karena faktor konsentrasi , suasana dalam diri, atau pun keterbatasan pemahaman bahasa yang dipahami, dan diri menyadari sepenuhnya, maka diri dapat melakukan upaya mencari kejelasan dengan cara bertanya kembali,  apabila informasi adalah suatu percakapan antar diri dengan diri lain, atau pun melakukan penerimaan terhadap suasana diri,  serta upaya belajar, menambah pengetahuan dan memahami bahasa apabila informasi yang diterima kurang dipahami secara pengetahuan.

Kesadaran merasa_mindful, juga dapat merasakan makna dibalik suara atau suasana yang melatari informasi yang disampaikan atau diterima oleh diri, sehingga kejelasan akan apa yang di dengar menjadi lebih jelas diterima oleh diri. Manakala hal ini telah menjadi tingkat kesadaran pada diri, maka untaian kata indah dari Tara Brach di bagian awal pembuka tulisan, menjadi penggugah diri dalam memaknai kehidupan.

#belajarmerasa_mindful

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s