Coaching 4.0, membangun jeda di tengah kecepatan dunia

Awareness is the greatest agent of change
– Eckhart Tolle

coaching 4.0.jpg

Up to date, satu kata yang demikian cocok disandarkan pada Coach yang satu ini, atas pengetahuan dan wawasannya terkait perkembangan dunia learning. Industri Learning memang menjadi konsen dan keseharian Coach N. Kuswandi, People & Organisation Performance Coach, yang juga penulis buku Coaching Handbook dan People Development Handbook.

Sabtu, 24 November 2018, sharing and group discussion yang membahas Coaching 4.0 menjadi tema pembelajaran bulanan di Asosiasi Profesional Coach Loop Indonesia – APCLI, kali ini dan difasilitasi oleh Coach N. Kuswandi. Pada diskusi ini kami mendapatkan pemahaman bagaimana evolution of learning solution berproses, dan bagaimana profesi coach mengambil peran dalam berkontribusi sebagai bagian dari solusi kebutuhan pembelajaran di era saat ini. Humor segar yang beliau lontarkan, seringkali mengecohkan kakak-kakak, demikian biasa kami saling memanggil satu sama lain di APCLI, membuat sesi belajar dan diskusi pagi hingga siang hari itu menjadi lebih ceria. Materi yang cukup serius dibahas menjadi lebih nyaman untuk dicerna.

Pada pembukaan, kami diajak bermain drama penculikan. Skenario yang dibangun, anggota tim, tidak bisa menolong rekan yang disandera secara langsung, tetapi hanya melalui telepati, sehingga upaya pembebasan berangkat dari upaya rekan yang disandera sendiri. Situasi ini kemudian dibahas sebagai analogi dari situasi sesi coaching, apa yang dirasakan oleh sandera, pertanyaan-pertanyaan apa yang menggugah diri untuk mendorongnya melakukan tindakan aksi sebagai upaya pembebasan dirinya sendiri. Melalui permainan drama ini, kami diajak untuk mengevaluasi kembali, melihat dari sisi coachee, dan bagaimana kompetensi coaching diterapkan. Sungguh sebagai suatu pembukaan yang menarik dan menyegarkan.

Kemudian dilanjutkan materi pembahasan, disampaikan bagaimana dampak dari revolusi industri ke empat, atau yang diistilahkan perkembangan industri 4.0. Perkembangan ini menuntut para praktisi learning menjadi lebih peka dan mampu menjawab tantangan kebutuhan inovasi-inovasi learning yang dibutuhkan, sehingga bergulirlah fase-fase evolusi di dunia learning. Evolusi of learing solution dimulai dari fase : E-learning & Blended (1998 – 2002), Talent Management (2005), Continous Learning (2010), Digital Learning (2017), dan Intelegent Learning yang diperkirakan akan dimulai pada tahun 2020. Evolusi mulai bergulir dengan ditandai hadirnya perkembangan internet di sekitar era 1998. Kemudian evolusi bergulir, ditenggarai dengan perkembangan sosial media, sejak jaman facebook hingga yang terkini, yaitu instagram. Perkembangan yang turut merubah perilaku manusia, hal ini menuntut inovasi-inovasi pembelajaran yang selaras dengan perkembangan jaman.

Coaching sendiri pada akhir-akhir ini menjadi semakin populer karena tidak lepas dari evolusi learning & development sendiri. Dimana coaching berada pada fase continous learning (2010 – 2017). Philosophy continous learning, 70: 20: 10 dimana 70% learning terjadi secara informal learning melalui pengalaman praktek (job assigment, project assigment, etc), 20% melalui learning from others (coaching, mentoring, etc) dan 10% terjadi dari formal learning (training, etc). Saat ini evolusi bergulir memasuki dunia digital learning. Pemaparan yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yang secara apik difasilitasi oleh Coach N.Kuswandi, sampai pada pertanyaan bersama, yaitu : bagaimana peran kehadiran profesional coach akan bergulir dalam perubahan fase evolusi learning ? Akankah kehadiran para profesional ini digantikan oleh teknologi digital ?

Refleksi akan makna coaching dikembalikan kepada masing-masing coach. Bagaimana makna coaching dibangun dan bagimana kehadiran coach memberikan dampak nyata dari para coachee dalam memfasilitasi proses pembelajaran dalam diri. Akankah kompetensi coaching mampu dihadirkan oleh teknologi digital ? Differensiasi apa yang mampu disuguhkan untuk mempertahankan kebutuhan seorang profesional coach dalam memfasiltasi proses learning.

Konklusi akhir dari pembelajaran bersama ini, para Coach diajak unutk mengevalusi diri dalam upaya meningkatkan kompetensi coaching. Melalui diskusi SWOT, strength-weakness-opportunity-threat, melihat kedalam diri dan situasi dunia saat ini. Menggali peluang-peluang serta upaya-upaya apa yang dapat dilakukan dalam meningkatkan peran profesionalisme dengan kompetensi yang dimiliki dalam melayani kebutuhan learning yang selaras dengan perkembangan evoluasi learning yang terjadi. Kesadaran akan siapa diri sebagai personal maupun profesional, nilai-nilai apa yang dimiliki, serta bagaimana peran coach sebagai individu maupun organisasi dapat memiliki tempat dan memberikan kontribusi nyata mengiringi era digital learning yang sudah mulai memasuki Indonesia saat ini.

Salam.

http://eni.or.id/

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s