Self-Acceptance, Berdamai dengan diri membangun kepemimpinan sejati

Peace is not the absence of power,
Peace is the presence of love
– Sri Chinmoy –

IMG-20180808-WA0000

Salam sapa hadir dalam pesan tertulis dari seorang sahabat, menyapa sore menjelang malam. Cerita yang dialami sahabat pada siang itu, atas kemarahan dalam perdebatan dengan seorang manager toko. Perdebatan yang kemudian dimenangkan olehnya, namun berujung pada ketidaktenangan diri. Sadar atas ketidaktenangan diri, membawanya kembali untuk meminta maaf kepada manager toko tersebut . Suasana sudah membaik, hanya dirinya menyesal karena sudah tidak mindful dalam situasi tadi dengan telah mengeluarkan energi yang meluahkan pikiran egois dan arogan atas situasi yang bisa dibicarakan dengan baik-baik.  Dirinya mengatakan seperti orang yang bodoh karena bersikap keras.

Sadar atas ketidaktenangan dirinya, menerima penyesalan yang kemudian hadir, bersabar atas proses diri dalam memaafkan ekspresi pikiran ego dan sikap arogansi yang sudah terluahkan. Kehadiran diri momen demi momen atas seluruh peristiwa yang terjadi, kesediaan diri untuk menerima situasi yang dialami, dan keberanian dalam diri untuk meminta maaf atas perilakunya. Demikian diri ini merasakan cerita yang disampaikan oleh sahabat atas peristiwa yang dialaminya.

Cerita sahabat yang menginspirasi, menggugah diri ini untuk menuangkan dalam untaian kata.  Memori hadir menyapa, teringat tentang buku yang berjudul  “The Mind of the leader: How to lead yourself, your people, and your organization for extraordinary results”, ditulis oleh Jacqueline Carter dan Rasmus Hougaard, dan diterbitkan oleh Harvard Business Review Press. Buku yang menuliskan tentang pemimpin yang mampu memimpin dirinya sendiri, yang  kemudian menggerakkan orang-orang untuk membawa keberhasilan organisasi mencapai hasil luar biasa dan bermakna. Tiga hal: Mindfulness, Selflessness, dan Compassion, sebagai esensial dari kepemimpinan di abad ini.

Menjalani praktek mindfulness dalam kehidupan sehari-hari,  bermakna kesediaan untuk diri hadir, momen demi momen.  Rasa menyenangkan – tidak menyenangkan  (pleasant-unpleasant), disadari sebagaimana apa adanya rasa, disadari tanpa label penghakiman,  membuka ruang kesadaran dalam menerima proses keselarasan dalam diri. Proses dalam membangun jeda, keheningan  yang membantu menyadari respon diri tanpa bersikap reaktif,  momen demi momen.  Jeda, hening  diantara tarikan nafas, sebagai ruang penerimaan atas proses perdamaian diri.

Kesediaan untuk diri berdamai.  Perdamaian bukanlah ketiadaan kekuatan. Damai menjadi penanda hadirnya kasih sayang,  sebagai makna penerimaan diri, self acceptance.

Mindfulness, pembelajaran dan praktek dalam membangun kesadaran diri (be aware moment by moment), mengajak diri untuk STOP : Stop-Take a break-Observe-Proceed, membangun jeda, menyadari ruang kesadaran diantara tarikan nafas, mengamati apa adanya respon diri. Hadir utuh pada momen ini, sabar dalam menjalani proses penerimaan diri. Penerimaan diri berwujud kemampuan diri dalam berdamai dengan dirinya sendiri. Penerimaan diri membawanya mampu menerima kehadiran diri lain. Penerimaan diri yang tidak bersikap mementingkan diri sendiri.  Kasih sayang hadir bagi diri dan orang-orang yang dipimpinnya.

Salam,

Self-reflection.

Note:

9 attitude of mindfulness: beginner’s mind (pemikiran pemula), patience (sabar), non-judging (tanpa penghakiman), trust (percaya), non-striving (tanpa kengototan), acceptance (penerimaan), letting go (melepaskan), gratitude (bersyukur), generosity (kedermawanan)
– Jon Kabat-Zinn, Ph.D., founder of  Mindfulness-Based Stress Reduction.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s