You are not your pain

Accepting the sensations of primary suffering allows the secondary suffering to take care of itself and to progressively diminish – Vidyamala Burch & Denny Penman –

BukuMembaca buku ini, lembar demi lembar, seakan me-recall kembali memori rasa kala pelatihan MBSR, Mindfulness-Based Stress Reduction saya jalani. Detik demi detik, jam, hari dan minggu berjalan terasa penuh, meski kesadaran tak selalu hadir, kadang pikiran lalu lalang dan emosi berbuncah menghampiri, namun kemudian kembali hadir merasa.

Intensi yang hadir merupakan perjalanan beberapa tahun terakhir, demi memahami permasalahan kesehatan, yang meski telah berlalu dan berjalan dalam pembelajaran yang baru, namun keinginan untuk memahami dan memaknai situasi nyeri yang seakan mengedukasi bertahun-tahun tidak menyurutkan minat, berjalan bersama teman-teman yang masih dalam proses berdamai untuk masing-masing diri menjalaninya.

Buku “You are not your pain”, oleh Vidyamala Burch dan Danny Penman, demikian indah tersaji, terangkai dalam untaian kata dari kesadaran merasa yang demikian hadir utuh penuh. Pengalaman penulis menghadapi nyeri tulang belakang yang menjadi pergumulannya selama berpuluh tahun. Buku yang menguak kesadaran merasa pada diri, bisa merasa bukan merasa bisa, seakan membedah apa adanya situasi tubuh dan terangkai membuka kesadaran akan nyeri yang dialami, serta bagaimana proses mindful acceptance pada dirinya.

Buku ini menerangkan minggu demi minggu dari pelatihan MBSR, Mindfulness-Based Stress Reduction, yang dikembangkan menjadi MBPM, Mindfulness-Based Pain management. Buku yang dibuka dengan Bab awal Every moment is new change, setiap momen adalah perubahan baru, saat ini-disini-begini, apa adanya. Menguak kesadaran tentang nyeri sebagai sensasi yang diamati hingga kemampuan menerima setiap perubahan, ritme dan sensasi dari nyeri, bukan dari keterampilan berfikir ataupun buncahan emosi, namun mengamati setiap sensasi, baik fisik, maupun sensasi pikiran dan ekspresi emosi yang hadir sebagai peristiwa mental apa adanya, tanpa penghakiman.

Selanjutnya intepretasi dari tema pada tiap-tiap minggu pelatihan dalam merefleksikan personal journey yang dijalaninya. Tiap-bab merangkaikan kesadaran merasa, sensasi yang dirasakan apa adanya, tanpa penghakiman. Kemampuan merasa yang terbentuk dari hasil pelatihan silence sensing yang terangkai pada lembar demi lembar penjelasan pelatihan dan study kasus, seolah membedah kesadaran, membantu pembaca memahami apa yang dirasakan dari setiap pelatihan yang dilakukan. Pergumulan emosi,  kesesakan pikiran hingga sensasi denyutan fisik yang terungkap dalam rasa yang hadir.

Dalam salah satu penjelasan dari perilaku pelatihan yang dijalani membantu pembaca memahami dalam melihat bagaimana perilaku kesadaran apa adanya tanpa penghakiman, fully awake non judgmental (mindfulness).

Automatic pilot versus conscious choice, proses yang berjalan secara otomatis_uncouncious, namun perilaku pilihan untuk sadar_conscious, dan mengamati.
Analyzing versus sensing, alih-alih menganalis ( proses berfikir ) lebih kepada penginderaan, merasakan sensasi yang hadir dan diamati.
Avoidance versus approaching, perilaku yang menghindari nyeri lebih kepada menerima dengan mendekati dan mengamati sensasi yang hadir
Striving versus accepting, perilaku upaya sebagai perjuangan namun lebih berupa perilaku menerima apa adanya.
Viewing thoughts as “solid” and “real” versus viewing them as “mental events”, perilaku mindfulness, kesadaran yang apa adanya diterima tanpa penghakiman, penerimaan yang netral, termasuk saat pikiran dan emosi yang hadir menyertai diterima sebagai peristiwa mental yang terjadi.

Bagian penutup, pembaca diajak untuk menemukan makna sehat sejahtera_ finding true well-being, dari keadaan nyeri yang dialami, hingga mampu menguak bahwa dirinya bukanlah nyeri. Dan selanjutnya memberikan kesempatan untuk diri menumpahkan kasih sayang kepada diri, dengan menulis surat bagi diri sendiri sebagai salah satu bentuk kesadaran dan penerimaan akan diri pribadinya.

Terima kasih, terima kasih, ungkapan yang bisa diri haturkan mendapat kesempatan membaca untaian kata yang membuka kesadaran merasa, membuka penerimaan dan pemahaman akan makna kesadaran siapa diri, saat ini-disini-begini.

Salam,

#Self Reflection
#belajarmerasa_mindful

 

 

 

One thought on “You are not your pain

  1. Pingback: Women Discussion, Ruang diskusi menyelaras diri bersama | eniwidia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s