PERJALANAN KASUNYATAN, Align with universal intelligence

Sang waktu berjalan mengiringi perjalanan menyusuri siapa diri, …
Semesta hadir menyapa dalam ragam peristiwa dan rasa.
Momen demi momen menyapa diri,…
Makna mengalir kala diri hadir merasa

perjalanan kasunyatan

Berangkat dari penemuan intensi diri untuk hadir merasa menyelaras bersama semesta, Perjalanan Kasunyatan demikian menyapa diri untuk sejenak mengambil jeda, …. melangkah menyelaras dalam ritme rasa, melepaskan diri.

Satu tahun telah bergulir, mengalir, menyapa raga, hawa dan jiwa. Intensi diri untuk hadir merasa, kiranya membuka makna akan resolusi diri di awal satu tahun yang berlalu. Makna membuka dalam keheningan, tiada kata terungkap hanya rasa yang hadir menyapa.

What we need is here… Sedemikian sederhananya kalimat itu mengalir dari bibir Sang Guru Bijak Bestari, yang coba mengajari Sang Sisya untuk mengerti; saiki, nang kene, ngene (saat ini, di sini, begini) demikian falsafah Jawa-nya. –  Ki Aji Pratama

Demikian kawan bijak merangkai kata, untuk kemudian menerangkan bahwa Saat ini bermakna waktu, Di sini bermakna Ruang, dan Begini bermakna Jiwa, membantu diri yang sangat lambat dalam memahami makna. Diri yang merasa lambat dalam memaknai kata, menguntaikan rasa dalam rangkaian aktifitas lambat guna menata rasa menerima olah rasa.

Perjalanan Kasunyatan

Rangkaian kegiatan dalam program perjalanan merasa merupakan pelatihan sang diri yang rindu untuk mampu hadir mengenali siapa diri, saat ini, di sini, begini. Rangkaian aktifitas lambat dalam memaknai dan meresapi pembelajaran bersama semesta raya. Berjalan bersama sang waktu, hadir menyelaras dalam (ruang) anggukan semesta, menyapa Jiwa dalam keheningan rasa.

Intention : melepaskan diri
Attention : diam merasa
Attitude : hadir menyelaras

Perjalanan Kasunyatan yang terangkai dalam 3 alunan pelatihan olah rasa :
I.     Larut berselimut Kabut
II.    Hadir tersapa Nada
III.  Jeda selaras Semesta Raya

Perjalanan Kasunyatan I : Larut berselimut Kabut
Diri hadir menyelaras diri dengan Diri.
Mengenali kesadaran Raga, Hawa, dan Jiwa.

Seringkali diri ini terbajak dalam ilusi kesadaran. Momen demi momen terlewati dalam keriuhan nada rasa dan kira. Hawa yang bermakna emosi dan pikiran, lebih sering diselimuti ego. Raga yang menyapa dalam kehadiran yang lambat, lebih sering terasa kala segalanya terlambat. Jiwa dalam wujud Sang Hening hanya mampu disadari kala diri diam merasa.

Dunia luar lebih bermakna sebagai pemenuhan hawa meski sering memakai kedok kebutuhan raga dan jiwa. Sang waktu yang berjalan apa adanya, dalam putaran dimensi ruang yang sedemikian menyelaras secara holistik, dikatakan berjalan cepat tanpa terasa. Siapa diri saat ini, di sini, begini, tidak mampu hadir apa adanya. Ilusi demikian membajak kesadaran dikatakan sebagai realita dunia nyata.

Diri yang rindu, menyapa raga yang terasa dalam keheningan. Ada terasa namun tiada kata yang terungkap membuka makna. Rindu yang menyapa, menyentuh hati semesta raya. Anggukan semesta yang hadir dalam selimut kabut kiranya menyapa jiwa akan ketersediaan ruang dimensi yang hadir untuk menyentuh raga, dalam upaya diri meyelaras dengan diri. Diri yang tak lagi terbajak dalam ilusi realita dunia nyata, Sang jiwa terasa dalam keheningan realita.

Diam merasa, olah rasa, menyapa kesadaran raga, hawa dan jiwa apa adanya, tanpa terbajak ilusi.

Perjalanan Kasunyatan II : Hadir tersapa nada
Diri membuka intensi dalam diri.
Membuka rasa mengenali intensi perjalanan.

Ilusi bernama motivasi sering dianggap sebagai intensi yang memberikan energi perjalanan membuka makna. Dunia dibalut pencitraan akan rasa. Edukasi yang dikondisikan mengarah pada tata nilai yang dianggap realita dunia nyata. Pencitraan lebih dianggap sebagai tampilan tanggungjawab, keselarasan dimaknai keseimbangan gelap-terang, atas-bawah.

Diri yang rindu merasa, bersedia membuka rasa. Intensi hadir terasa bukan sebagai milik dan keinginan hawa. Intensi yang telah ada sebagai makna kehadiran diri, momen demi momen. Kehadiran yang dirasa, disadari meski tak mampu teruntai dalam kata. Diri yang membuka menerima ketidakmengertian, merespon rasa kehadiran, melepaskan diri dan menerima apa adanya rasa. Menyelaras bersama anggukan semesta raya akan perwujudan upaya perjalanan,  kerinduan untuk hadir menyelaras diri dengan diri lain dan diri dengan semesta.

Intensi perjalanan dimaknai refleksi diri, melepaskan intensi yang hadir, menerima apa adanya kapasitas dan bagian diri tanpa terbajak ekspektasi yang membalut upaya. Intensi yang diwujudkan dengan kesediaan diri untuk meluangkan waktu akan kerinduan jeda bersama semesta.

Perjalanan Kasunyatan III : Jeda selaras Semesta Raya
Diri hadir menyelaras, Diri dengan Diri lain, Diri dengan Semesta
Menerima apa adanya kehadiran dalam perjalanan

Perjalanan kasunyatan bukan berbicara tentang diri dalam balutan ilusi. Perjalanan kasunyatan bermakna diri hadir membuka rasa memberi ruang pada semesta untuk hadir menyapa. Diri yang lebih sering lupa, tertutupi kepenatan, terbajak kesadaran pada semesta yang senantiasa hadir menyapa. Perjalanan yang membuka makna membiarkan segala sesuatu hadir menyapa raga dan hawa dalam kesadaran dan keheningan jiwa. Diri yang hening berjalan bersama semesta memaknai rasa.

Raga, hawa, dan jiwa membuka menyelaras bukan karena asa.
Raga, hawa, dan jiwa mengalir bersama dalam karya.
Niat, sikap dan perbuatan bukan karena diri merasa kuasa.
Niat, sikap dan perbuatan menyelaras bersama semesta hadir membawa makna kehadiran Yang Maha Kuasa

Salam,

Self Reflection

#belajarmerasa_mindful
#perjalanankasunyatan
#belajarpulangsebelumdipanggilpulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s