KETIKA KEMATIAN ITU DATANG

“Cause you never think that the last time is the last time. You think you have forever, but you don’t”. – Grey Anatomy 

Kematian

Kematian berkata :

Ketika aku datang , pastikan kau melihat keindahan yang mengiringinya.

(Collateral Beauty, Sutradara : David Frankel, Write : Allan Loeb, Star : Will Smith, Edward Norton, Kate Winslet, Michael Pena)

Kematian bukanlah situasi yang mudah untuk diri hadapi. Manakala berita kematian itu datang, bagai terhenyak diri menerima, buncahan rasa hadir seketika, tanpa mampu beruntai kata, bulir air mata lebih sering mewakili ungkapan rasa yang hadir seketika.

Diri yang  hadir merasa, menerima berita kematian , satu per satu keluarga , saudara dan handai tolan, pergi menghadap Sang Illahi, kembali ke pangkuan, berpulang keharibaan atau beragam untaian kata indah yang diberikan bagi mereka yang telah tiba giliran kematian, memberikan ungkapan makna doa yang mengiringi kematian.

Kematian, makna apa adanya kematian , kala waktu telah selesai dengan diri, kala nafas tak lagi hadir bersama diri, mampukah diri berkata “ Sudah selesai “ , ketika kematian itu datang ?

Sebuah renungan pengalaman, saat diri berada pada ketakberdayaan, kala kematian demikian menghadang.  Hasil pemeriksaan panjang, dengan beragam alat pemeriksaan kesehatan, menunjukkan bahwa pada raga, terdapat jaringan yang mengakibatkan organ tubuh mengalami gangguan, yang menyebabkan metabolisme yang menjaga kelangsungan kehidupan menjadi terhambat dan dapat berujung pada kematian.

Memori kembali hadir, mengungkapkan pengalaman akan rasa, raga yang hanya  diam menerima, segala nyeri dan sakit yang tak tertahankan dalam toleransi yang mampu diterima, sehingga membutuhkan dukungan untuk melepaskan diri dari tingkat kesakitan yang tak mampu dibendung.  Hawa yang kala itu tak mampu lagi berekspresi , emosi, pikiran, bahkan ego pun diam membungkam. Hanya bersandar pada jiwa dalam keheningan. Sang Hening, yang selama kurun waktu berjalan begitu halus dan lembut keberadaannya, lebih sering terbajak oleh kesadaran raga dan kesadaran hawa, demikian menjadi sandaran pada titik akhir kepasrahan diri.  Hening demikian hadir merangkul dalam kesunyian, berserah pada keharibaan, menyatu dengan seluruh kehadiran semesta.

Kematian, titik akhir babak kehidupan fana. Untaian peristiwa dari rangkaian waktu bernama kelahiran – kehidupan – kematian. Kematian , kepastian yang diterima , akan tiba giliran pada tiap-tiap diri untuk kembali, meski menjadi rahasia Illahi akan kapan kehadiran itu tiba.

Untaian kata penuh makna,  …

Pastikan diri melihat keindahan yang mengiringi ketika  kematian itu datang.

Refleksi yang membawa diri untuk kembali melihat ke dalam diri , membangun kesadaran diri, saat ini di sini, begini.  Terima kasih kepada kawan jiwa yang bijak mengajak diri untuk  :

Belajar pulang sebelum dipanggil pulang – Ki Aji Pratama

Terima kasih, terima kasih, terima kasih

Salam,

#belajarmerasa_mindful

#selfreflection

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s