WAKTU, Makna cukup pada diri dalam perjalanan menelusuri waktu

Enough.
These few words are enough.  If not these words, this breath.  If not this breath, this sitting here.  This opening to the life  we have refused  again and again until now.   Until now.  – David Whyte –

 Waktu

* Foto : Berau, Kalimantan Timur (HrS)

Waktu :
Aku melimpah, aku adalah kurnia, ….
Aku tidak berjalan dari Januari hingga Desember, atau dari pagi hingga malam,
tetapi dirimulah yang membuat semua itu di dalam benakmu.
(Collateral Beauty, Sutradara : David Frankel, Write : Allan Loeb, Star : Will Smith, Edward Norton, Kate Winslet, Michael Pena)

Sebuah refleksi terbangun kala menyimak sebuah tayangan film, membawa diri pada kesadaran merasa, tentang waktu. Sering diri seakan-akan merasa, waktu berlalu demikian cepat. Pekerjaan belum selesai,  keberhasilan belum diraih, hingga kematian orang tercinta, bagai terhenyak dan berujung pada menyalahkan keterbatasan  waktu. Seakan tak pernah cukup diri diberi kesempatan, ruang dan waktu.

Kesadaran lebih sering terbajak oleh keinginan – keinginan untuk meraih sesuatu. Hari berlalu tenggelam oleh aktivitas yang tak disadari pada momen demi momen yang dilalui. Ukuran aktualisasi diri lebih memenuhi kesadaran nisbi, tanpa mengerti makna untuk apa diri berlaku.

Bertanya diri pada keheningan,  Siapakah  Sang Waktu, Bagaimana bentuknya. Bagaimana diri memaknai waktu ? Pertanyaan – pertanyaan refleksi yang terlintas pada kesadaran diri, kala kaki melangkah dalam kesejukan pagi , kala mentari bersinar menyeruak menerangi sekeliling, memanjakan mata dengan segala penglihatan dan beragam warna dalam keindahan kehidupan.

Waktu, …..

Durasi hidup, sepanjang nafas masih memeluk raga ini, jiwa hadir menjalani laku hidup dalam beragam rupa dan peran.  Dimana diri selama ada waktu ? Apa makna yang dibangun saat diri menjalani perjalanan waktu ? pertanyaan berubah kala diri merasa bahwa waktu adalah durasi hidup. Kesadaran merasa  membawa diri kembali melihat ke dalam diri, manakala disadari durasi hidup adalah jumlah tarikan nafas yang mengalir,  menjalin keterhubungan diri dengan diri, diri dengan diri lain , dan diri dengan semesta.

Kiranya waktu berisi momen demi momen, … sejak  diri mulai hadir dalam kandungan ibu,  lahir,  tumbuh berkembang sebagai makhluk pembelajar sejati, hingga sang waktu selesai dengan diri.     Kiranya waktu telah mengiringi perjalanan diri.  Masa lalu sudah terjadi, masa depan belum terjadi,  maka diri ada bersama waktu saat ini, di sini, begini.

Cukuplah diri apa adanya diri, ….
Saat untaian kata tak lagi mampu berkata, cukuplah nafas ini membuat diri sadar merasa.  Bilamana dalam nafas ini diri belum lagi merasa cukup , maka cukuplah diri dengan diam duduk merasa.

Upaya diri dalam membangun kesadaran merasa akan waktu yang senantiasa mengiringi namun lebih sering terbajak,  kembali dan kembali hingga akhirnya diri merasa saat ini , disini , begini, untuk hadir merasa pada momen demi momen.  Kiranya waktu berlimpah, kiranya waktu adalah kurnia untuk hadir merasa bersama waktu.

Selamat merasa …. hadir selalu bersama Sang Waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s