SANG PEJUANG, Pemimpin yang Peka dan Mampu Merasa

Pucuk dicinta ulam pun tiba, … Demikian pepatah mengatakan saat dirasa apa yang diharapkan diperoleh seolah ada faktor kebetulan. Jika diri peka, maka dunia yang sudah demikian terkoneksi akan mempertemukan  mereka yang terkoneksi dalam frekuensi rasa yang setara.

eri-sanSebuah buku berisi untaian kata, membentuk kalimat-kalimat yang tersusun dan menjalin cerita. Cerita teruntai berlandas peristiwa, imajinasi, dan pengalaman. Membaca buku memberi kekayaan makna, menambah wawasan. Sebuah peristiwa yang terjadi tanpa sempat terdokumentasi, baik dalam untaian kata menjalin cerita ataupun tampilan gambar yang menyatakan peristiwa, hanya akan memberi makna bagi orang-orang yang mengalami peristiwa. Manakala pelaku telah berpulang, makna akan turut berpulang.

Buku “Hidupku bersama Eri-San, Pejuang Kemerdekaan” , ditulis pertama kali dalam bahasa Inggris, oleh Mang Eri Soedewo, yang juga istri dari tokoh cerita sentral dalam buku tersebut. Selanjutnya buku diterbitkan dalam bahasa indonesia, yang diterjemahkan  oleh Dr Nies Endang Mangukusumo, yang juga putri dari tokoh sentral dalam buku tersebut.

MayJen Prof. Dr Eri Sudewo adalah tokoh sentral pada buku Eri-San, Seorang Pejuang, pelaku sejarah dalam kapasitasnya sebagai dokter dan tentara. Pejuang yang hidup dan berjuang melewati  3 jaman,  pelaku sejarah pada masa Prakemerdekaan, Kemerdekaan dan Orde Baru. Dan masih merasa bahwa  perjuangan belum selesai hingga akhir hayatnya, karena Ibu Pertiwi dirasakan masih menderita, dimana cita-cita kemerdekaan sesungguhnya dalam upaya pemerintah yang bersih dan membangun kesejahteraan rakyat, belum terealisasi.  Pelaku sejarah, satu dari kelompok pemuda  yang menculik  Soekarno-Hatta, sehingga Proklamasi berhasil dikumandangkan. Pejuang senior yang mendampingi tokoh pemuda kala itu, Adnan Buyung Nasution, yang menghadap Presiden Soeharto di masa pemerintahan orde baru, mengingatkan untuk menjaga pemerintahan yang bersih. Serangkaian tugas yang diemban, Kepala Staf Divisi Siliwangi yang berjuang secara bergerilya, keluar masuk hutan. Melanjutkan cita-cita kembali menjadi dokter, menjadi dokter spesialis bedah di RSPAD,  hingga  menjadi Ketua Ikatan Dokter Bedah Indonesia. Selanjutnya ditugaskan menjadi Rektor Universitas Airlangga, dikala kondisi genting di Surabaya, di masa berbagai demonstrasi mahasiswa. Penugasan karena kemampuan beliau merangkul mahasiswa dan berbagai kalangan, dengan menciptakan suasana kampus yang bernafaskan kekeluargaan.  Dan pada akhirnya bertugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Swedia.

Untaian kata yang menggambarkan peristiwa dan sikap Eri-San sebagai pemimpin, yang ditulis oleh sang istri yang mendampingi hidup sang tokoh hingga akhir hayatnya, mampu memberikan gambaran bagaimana sang tokoh mengemban tugas sebagai pemimpin. Peka dan mampu merasa, demikian tercermin dalam sikapnya meski dibalut ketegasannya  dalam memimpin. Rumah Dinas sebagai Rektor Universitas Airlangga, justru dibuka 24 jam bagi mahasiswa yang membutuhkan, sekaligus sarana bagi dirinya sebagai pemimpin untuk mendengar langsung keluhan dan permasalahan mahasiswa.  Pemimpin yang peka dan mampu merasa, menjadi  ciri yang demikian kental, baik dalam menghadapi lawan, saat masa perjuangan Prakemerdekaan, rekan seperjuangan, maupun masyarakat yang menjadi tanggungjawab dan terkena dampak dari situasi perang kemerdekaan. Sikap dan perilaku ini pun tercermin dalam setiap kepemimpinan  dalam menjalankan berbagai tugas yang diembannya.

Pepatah di awal tulisan ini, dirasa sesuai, buku Eri-san penulis terima sebagai oleh-oleh, dan segera dibaca bersamaan dengan penulis mendapatkan diskusi dari seorang teman baik mengenai konsep Richard Barrett,   The New Leadership Paradigm. Perubahan pola pikir sederhana, beranjak dari pola pikir “to be the best in the world”, menjadi “to be the best for the world”. Dari mengejar menjadi mengundang, dari meminta menjadi memberi, dari mengambil menjadi berbagi. Seakan mendapatkan contoh  model pemimpin yang menerapkan The New Leadership paradigm,  yang berasal dari negara-negara maju yang mengamati adanya krisis kepemimpinan.

Menjadi pemimpin yang memiliki sikap peka dan mampu merasa, dapat dimulai dari diri sendiri. Manusia sebagai makhluk sosial dan individu, adalah pemimpin bagi diri sendiri, sebelum menjadi pemimpin bagi orang lain maupun dalam kedudukan sosial kemasyarakatan. Bagaimana diri sebagai pemimpin, dapat dimulai dengan membangun kesadaran diri. Keterhubungan diri dengan diri, diri dengan orang lain dan diri dengan semesta, juga dapat meningkatkan kapasitas peka dan mampu merasa. Pemimpin yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan mampu merasa akan mempengaruhi keputusan dan tindakannya dalam menjalankan laku diri sebagai pemimpin.

Selamat menjadi pemimpin, yang peka dan mampu merasa!

Salam,

Self Reflection

http://www.slideshare.net/BarrettValues/the-new-leadership-paradigm-richard-barrett

http://ideas.triaji.net/shifting-from-to-be-the-best-in-the-world/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s