MERASA, Gerbang kesadaran menjadi manusia

dsc_0166-2Membaca buku  “Menjadi Manusia YANG BISA MERASA Bukan Merasa Bisa” , karya Ki Aji Pratama, menggugah kesadaran tentang diri sebagai manusia.  Sisi jujur menjadi manusia, … sederhana,  sarat pendalaman dan luasnya pemahaman serta pengalaman yang dibangun dengan kesadaran diri yang utuh.

Lebih baik saya menjejalkan cabe rawit ke mulut orang yang bertanya apa rasa cabe rawit,  ……

TAHU akan rasa belum tentu PAHAM akan rasa, PAHAM akan rasa belum tentu YAKIN akan rasa, YAKIN akan rasa belum tentu MENGALAMI rasa, dan pengalaman RASA tiap orang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

Kalimat-kalimat pada paragraf awal di Catatan Kecil penulis membuat saya tersenyum,  menggugah rasa untuk tidak berhenti membaca buku ini hingga selesai. Melanjutkan membaca pada lembar demi lembar, sederhana dan terasa mengalir, memberi ruang untuk merefleksi, seperti jika kita bertanya apa rasa cabe rawit, buku ini seakan menghadirkan cabe rawit dan membiarkan diri mencerna apa rasa cabe rawit menurut diri sendiri, karena rasa tiap-tiap diri memang berbeda.

Beberapa contoh latihan MERASA, yang dipaparkan dalam buku ini sederhana dan mudah untuk dilakukan .  Latihan yang membantu diri untuk mampu MERASA. Sebuah kesadaran diri yang hadir  secara utuh, di sini, di saat ini.

Tanpa disadari sering kali, diri ini dibungkus oleh PIKIRAN, EMOSI dan EGO, … Menjadi manusia yang bisa MERASA, memberi diri kesempatan melalui MERASA untuk mengenal DIRI SEJATI. Bahwa Diri Sejati bukanlah diri yang dibangun oleh pikiran, bukan pula diri yang ditutupi oleh emosi, serta bukan diri yang diliputi oleh ego.  Menjadi manusia yang bisa MERASA merupakan gerbang yang membuka awal pengenalan akan DIRI SEJATI .

“Tapi siapakah dia sebenarnya ? Keberadaannya sedemikian misterius, karena ia ada tanpa kata-kata, pun ia tak dapat diraih dengan definisi kata-kata, dia adalah rasa di atas segala rasa, yang hanya akan mampu dipahami kala kita memahami rasa kita sendiri.”

Demikian Ki Aji Pratama menulis paragraf lain dalam buku “Menjadi Manusia YANG BISA MERASA bukan merasa bisa”, mengajak pembaca untuk benar-benar MERASA, yang membuka kesadaran untuk mengenali diri sendiri, secara utuh , di sini dan saat ini. Buku ini juga menuntun pembaca mengenal sikap sabar, beliau katakan bahwa sabar tidak identik dengan pasif.

Point of view akhir dari bukunya, Ki Aji Pratama menuliskan bahwa “Hadirnya kesadaran manusia akan hidupnya adalah hasil dari upaya merasa”.

Pertanyaan akhirnya pada diri adalah “Apakah kita sungguh mampu merasa ? …..”

Selamat Merasa …..

Salam,

Book Review

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s